Showing posts with label Jelajah Gizi. Show all posts
Showing posts with label Jelajah Gizi. Show all posts

Wednesday, October 24, 2012

Tengkleng Solo: Enak Sih, Tapi...

Jumat, 26 Oktober 2012, umat Islam merayakan hari raya Idul Adha di mana ketersediaan daging, terutama kambing, menjadi melimpah. Berbagai menu dan resep masakan pun telah disiapkan. Salah satunya adalah Tengkleng Solo

Sejarah Tengkleng Solo
        Tengkleng merupakan makanan semacam gulai kambing tetapi kuahnya tidak bersantan. Rasanya gurih, segar ditambah pedasnya kuah karna didalamnya terdapat cabai yang jika dihancurkan akan mengeluarkan sensai pedas. Isi tengkleng adalah tulang-belulang kambing dengan sedikit daging yang menempel,tulang sumsum dan pilihan lain seperti organ-organ  bagian mata, telinga, pipi, lidah, jerohan, usus, otak dll.Lezat bukan? Tentu sensasi rempah yang menyelimuti bagian-bagian terlezat kambing siap menggoyang lidah sobat. Hehe
       Pada jaman dulu, hanya toean dan noni Belanda yang bisa makan gulai daging dengan kuah kental. Sementara kaum kuli dan rakyat jelata hanya bisa melihat mereka makan. Sisa-sisa bagian kambing selain daging, yaitu tulang-belulang dan jeroan, dibuang oleh para orang kaya. Dan para kuli mengambil sisa-sisa tulang tersebut lalu merebusnya dengan kuah encer yang minimalis.
Bertahun-tahun kemudian, tengkleng menjadi semakin terkenal dan justru bergeser jadi makanan kaum berpunya. Tengkleng juga mulai disajikan di berbagai hotel bintang lima. Meski demikian, tengkleng asli adalah tengkleng yang disajikan dengan tulang belulang. Hal tersebut karena saat ini mulai banyak warung tengkleng fusion yang justru menyajikan tengkleng berisikan daging iga, bahkan daging tanpa tulang. Tentu saja penyajian itu sudah meleset dari pakem “keimanan” tengkleng sejati.

Tengkleng Solo: Enak Sih, Tapi...
         Tapi, sobat harus tetap mawas diri dengan kesehatan sobat ya! Jerohan dan otak merupakan salah satu isi dari tengkleng solo. Sobat tahu tidak bahwa jerohan dan otak merupakan sumber kolesterol yang paling tinggi. Bahkan, kandungan kolesterol otak dapat mencapai 3000 mg/100g sedangkan jerohan kambing 610mg/100g. Padahal, kebutuhan harian kolesterol kita hanya 300 mg. Belum lagi, sumbangan kolesterol dari beberapa bagian isi tengkleng. Nah, apakah lantas tengkleng solo harus dihindari? Jawabannya bisa ya bisa tidak. Kita tilik dulu kadar kolesterol sobat :)
           Normalnya, kadar kolesterol darah adalah 160-200 mg sedangkan masuk kondisi berbahaya jika sudah di atas 240 mg karena bisa menyebabkan stroke. Nah, kalau sudah di atas 200 mg, sebaiknya, hindari konsumsi makanan-makanan tinggi kolesterol. Bagi sobat yang memiliki kadar kolesterol darah yang normal, sah-sah saja konsumsi tengkleng solo. Tapi, tetap dengan batasan yang wajar ya. Juga ikuti tips berikut agar kadar kolesterol tidak naik drastis setelah konsumsi tengkleng. Makan enak, tubuh sehat!
1. Batasi konsumsi, jangan berlebihan (cukup 1/2 - 1 porsi) dalam sehari
2. Sebaiknya konsumsi hanya 1 - 2 kali per minggu
3. Kalau memungkinkan, tinggalkan otak dan jerohan (kalaupun sulit, konsumsi sesekali, misal hanya 1 kali dalam 1 bulan)
4. Masukkan menu berbahan dasar sayur dan buah untuk mendapat serat yang dapat mengikat kolesterol (juga tinggi antioksidan)
5. Konsumsi havermout untuk menu makan berikutnya
6. Tetap lakukan olahraga secara teratur (3 - 5 kali per minggu)
7. Jangan konsumsi alkohol 
8. Jangan merokok
9. Konsumsi teh hijau
10. Konsumsi hasil olahan kedelai (tidak digoreng)

Cara membuat Tengkleng (tanpa otak kambing)
Bahan:
  • 100 gram daging kambing, potong 3×3 cm
  • 100 gram Iga kambing, potong-potong
  • 100 gram jeroan kambing, potong-potong
  • 100 gram daging kepala kambing, potong-potong
  • 600 ml air
  • 2 lembar daun salam
  • 1 batang serai, memarkan
  • 2 cm lengkuas, memarkan
  • 2 cm jahe, memarkan
  • 2 lembar daun jeruk purut
  • 2 sdm minyak samin/mingak goreng
Bumbu Halus:
  • 3 siung bawang putih
  • 3 butir bawang merah
  • 2 cm kunyit bakar
  • 1 sdt ketumbar
  • 1/2 sdt merica
  • 3 butir kemri
  • garam secukupnya
Cara Membuat:
  • Rebus daging, iga, jeroan dan daging kepala hingga lunak.
  • Panaskan minyak, tumis bumbu halus hingga harum. Angkat lalu masukkan ke dalam rebusan daging, rebus kembali.
  • Masukkan daun salam, serai, lengkuas, daun jeruk, dan jahe. Masak dengan api kecil hingga air rebusan hingga tinggal 1/3 nya.
  • Sajikan hangat.
Untuk: 4 porsi atau lebih

Kandungan gizi/porsi:
  1. Energi: 154 kal
  2. Protein: 16,6 g
  3. Lemak: 9,2 g (kolesterol: 225mg)
  4. Karbohidrat: 0 g

Nah, sobat, kadar kolesterol dalam tengkleng solo dari resep yang saya sajikan sudah mencapai 225 mg, padahal kebutuhan kita hanya 300 mg. Jangan lupa imbangi dengan konsumsi buah dan sayur juga tips yang saya berikan agar kolesterol tidak memuncak ya sobat :). Kalau perlu, kurangi konsumsi 1/4 hingga 1/2 porsi dari saran penyajian.

Sumber:
Agung mk. 2012. Tengkleng Solo "menikmati makanan buangan." http://nationalgeographic.co.id/forum/topic-2146.html [25 okt 2012]


Saturday, October 20, 2012

TORAKUR: Oleh-oleh Khas Bandungan Pencegah Kanker

          Bisa dibilang, Indonesia adalah surga bagi para pecinta kuliner. Dari Sabang hingga Merauke, dari Pulau Nias sampai Pulau Rote, terdapat kuliner khas Nusantara yang tak kalah lezatnya dengan kuliner manca negara. Buktinya, makanan khas Nusantara seperti rendang dan semur, misalnya, menjadi rebutan negara tetangga. Hehehe
       Menunjukkan jiwa nasionalisme tidak harus menunggu klaim dari negara tetangga, lantas kebakaran jenggot. Lakukan hal kecil untuk menghargai kekayaan kuliner nusantara, misalnya masuk ke restoran nusantara daripada kuliner impor. Bukan hanya rasanya yang lezat, kandungan gizinya pun tak kalah hebat! 
      Saya tinggal di sebuah desa di bawah kaki Gunung Ungaran, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Seperti halnya daerah pegunungan yang kaya akan buah dan sayuran, di desa yang asri ini pun demikian. Salah satunya, tomat. Siapa yang tidak mengenal tomat? Buah berwarna merah dengan rasa asam-manisnya yang khas juga kaya gizi. Tomat mengandung senyawa yang dapat menghambat oksidasi pada tahap progresi dalam karsinogenesis (proses pertumbuhan kanker). Senyawa di dalam tomat yang diduga berperan dalam menghambat pertumbuhan sel kanker seperti kanker endometrial, payudara, dan paru-paru adalah senyawa lycopene. Kandungan lycopene dalam 100 gram buah tomat mentah rata-rata mencapai 3-5 gram.
       Menurut badan penelitian dunia FAO-WHO, mengonsumsi buah tomat sebaiknya dimasak terlebih dahulu. Lycopene tidak rusak selama pemanasan, justru meningkat hingga 10 kali lipat ketika tomat dimasak sebagai saus atau pasta. Berangkat dari sinilah, TORAKUR (Tomat Rasa Kurma) oleh-oleh khas Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah menjadi istimewa.
Torakur telah dipatenkan hak miliknya oleh Bu Ngesti warga Dusun Ampel Gading, Desa Kenteng, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.

ASAL MUASAL TORAKUR
          Ide ini dicetuskan oleh Ibu Sri Ngestiwati sejak tahun 2002 ketika terdapat kelebihan stok tomat karena panen yang berlimpah hingga membuat harga tomat anjlok di pasaran hingga ke titik Rp250-Rp500. Tomat yang berlimpah tersebut apabila tidak diolah maka akan segera membusuk sehingga muncul ide mengolah tomat agar lebih awet. Tomat-tomat tersebut diolah menjadi manisan menyerupai kurma dari bentuk hingga rasanya. Selain menjadi rasa kurma, tomat juga diolah menjadi dodol. Olahan tersebut dapat awet hingga enam bulan.
        Keahlian membuat Torakur ini didapatkan dari mahasiswa Universitas Negeri Semarang (UNNES) dalam upaya pengolahan buah-buahan hasil pertanian menjadi manisan. Ilmu yang didapat tersebut kemudian dikembangkan sendiri oleh Bu Ngesti.
CARA PEMBUATAN TORAKUR
Persiapkan Bahan-Bahan:
- 5 kg buah tomat
- 1 kg gula
- 1 sdt air kapur untuk merendam secukupnya
Cara membuatnya :
1. Buah tomat yang di cuci bersih buah ujung tungkai atasnya dan bawahnya bolongi dengan garpu dan buang biji dan isi tomatnya
2. bolongi permukaan tomat dengan garpu sampai membentuk pori
3. rendam dalam air kapur selama 1/2 hari atau sampai mersap ke kulit
4. Masukkan gula pasir ke dalam rebusan tomat
 5. Aduk hingga merata (seluruh gula pasir mencair) dan tomat menjadi layu
6. Tiriskan rebusan tomat dan gula
7. Jemur rebusan tomat yang sudah ditiriskan sampai kering (kondisikan proses penjemuran steril, bebas debu, lalat, dan serangga)
8. Jika sudah kering, bentuk tomat menyerupai kurma (gunakan sarung tangan)
9. Setelah terbentuk menyerupai kurma, kemudian dilakukan pengemasan
10. Torakur siap dipasarkan
Sudah terbayangkan bagaimana lezatnya torakur sobat? Merasakan dan mencicipi langsung tentu saja berbeda dengan membayangkannya. Yuk, berburu torakur di Bandungan. Selain bisa didapatkan di pedagang-pedagang di Bandungan, bisa juga langsung meluncur ke rumah Ibu Ngesti.
Kandungan Gizi TORAKUR
Dalam 100 gram Torakur (6 butir torakur), terdapat kandungan gizi sebagai berikut:
Kandungan Gizi

Lycopene (g)
30-50
estimasi peningkatan 10x lipat
Energi (Kal)
91.80
Protein (g)
0.95
Lemak (g)
0.29
Karbohidrat (g)
22.79
Kalsium (mg)
5.75
Fosfor (mg)
25.85
Besi (mg)
0.50
Vit.A (RE)
213.75
Vit.B (mg)
0.06
Vit.C (mg)
38.00
  
Catatan :
     Anjuran dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), kadar gula yang boleh ditambahkan dalam makanan dan minuman maksimal 10 persen dari total kalori per hari. Rata-rata kebutuhan kalori orang Indonesia adalah 2000 Kal, sehingga asupan energi dari gula adalah 200 Kal. Setiap 6 butir torakur (100 gram) terkandung 91.80 Kal.
        Walaupun torakur memiliki kandungan lycopene yang bagus untuk mencegah kanker, namun kita juga harus memperhatikan kadar gula darah (untuk mencegah diabetes). Selamat menikmati sobat ;)