Showing posts with label TOURISM. Show all posts
Showing posts with label TOURISM. Show all posts

Tuesday, September 25, 2012

Candi Sukuh Tak Lekang Oleh Waktu



Banyak sekali peninggalan bersejarah di nusantara tercinta ini। Warisan nusantara yang tidak pernah ada habisnya jika kita terus menelusuri dan melestarikannya. Namun, sangat disayangkan, beberapa peninggalan sejarah di Indonesia dewasa ini mulai terasing di negeri sendiri. Anak kawula muda telah menemukan dunia baru hasil impor dari berbagai mancanegara yang terbilang canggih. Ketertarikan eksplorasi jelajah negeri sendiri pun mulai terabaikan dari agenda liburan atau pariwisata anak negeri. Sungguh, sangat disayangkan, karena dari pemuda dan pemudilah nusantara akan selalau terjaga. Semoga jiwa cinta nusantara terus terpatri di dalam jiwa kita ini dengan kuat. Selayaknya anak negeri yang mencintai negeri sendiri dan menjaga warisan nusantara sebagai harta dan karunia yang terindah. Semoga kita selalu senantiasa memperbaiki diri untuk mencintai warisan nusantara dan terus berkarya yang terbaik. Aamiin ^o^
Jika kita menyempatkan diri untuk berkunjung ke Dusun Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Di sana terdapat peninggalan sejarah yang sangat indah dengan suasana yang sangat asri. Udara sejuk dengan kandungan oksigen yang sangat kaya akan kita dapatkan di tempat ini. Bagaimana tidak, polusi udara tidak akan kita temukan, lingkungan yang teduh dan sejuk masih terjag dengan baik. Peninggalan sejarah berupa kompleks candi Sukuh yang berada di lereng Gunung Lawu pada ketinggian 1.186 meter di atas permukaan laut. Secara astronomis terletak pada 07o37,38’85” LS dan 111o07,52’65” BB. Kompleks candi Sukuh merupakan kompleks bangunan yang berteras, mengingatkan bentuk bangunan punden berundak. Teras di kompleks tersebut terdiri dari tiga teras atau halaman yang masing-masing dibatasi oleh pagar. Halaman paling suci terdapat di teras ketiga atau paling belakang, di mana terletak candi utama yang menghadap ke arah barat.
Ditilik dari latar belakang sejarahnya, kompleks candi Sukuh merupakan candi berlatar belakang agama Hindu, hal ini diketahui dari ditemukannya lingga dalam bentuk naturalis berukuran besar di kompleks tersebut. Berdasarkan prasasti yang terdapat pada bangunan, arca, dan relief, yang berkisar antara tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi – 1378 Saka atau 1456 Masehi diperkirakan candi didirikan pada abad XV M. Meskipun berlatar belakang agama Hindu namun terlihat bahwa bentuk bangunannya cenderung kembali pada masa prasejarah, terutama bentuk punden berundak. Sobat tentunya masih ingat dengan pelajaran sejarah SMP kelas 1 tentang manusia purba dan peninggalannya kan? Nah, sekarang adalah waktunya untuk berkunjung ke tempat-tempat bersejarah itu. Semoga bisa me-refresh jiwa dan raga kita untuk kembali berkarya atau setidaknya berkenalan dengan nenek moyang kita melalui peninggalannya ^o^. Berdasarkan relief yang terdapat di Kompleks Candi Sukuh yang menceritakan tentang Garudeya dan Sudhamala, diperkirakan candi tersebut berhubungan dengan upacara pelepasan atau ruwatan. Upacara pelepasan atau ruwatan berhubungan dengan kepercayaan arwah leluhur yang tampak pada susunan bangunan dalam bentuk teras berundak pada Masa Prasejarah.
Kompleks Candi Sukuh ditemukan kembali dalam keadaan runtuh pada tahun 1815 oleh Residen Surakarta, Johnson. Tahun 1842 Van der Vills mengadakan penelitian terhadap sisa-sisa bangunan di Candi Sukuh, Hoepermans tahun 1864-1867 menulis tentang Sukuh. Wuah, semangat kita untuk mengunjungi dan mempublikasikan candi sukuh ini jangan sampai kalah dengan para pendahulu kita ya! Semoga saja dengan gaya bahasa kita yang khas dan lebih atraktif mampu menarik para wisatawan baik lokal maupun mancanegara untuk mengunjungi candi Sukuh. Tentunya sobat memiliki kemampuan tersebut. Kemampuan untuk menulis atau pun menarik perhatian khalayak ramai untuk mengunjungi candi Sukuh dengan gaya dan cara masing-masing. Inventarisasi dilakukan oleh Knebel tahun 1910, dan beberapa literatur yang memuat tentang Sukuh. Baru pada tahun 1917 dilakukan penanganan oleh pemerintah RI, melalui Dinas Purbakala. Pemugaran dilakukan pada tahun 1928 oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Tengah. beberapa kegiatan penelitian arkeologis juga dilakukan oleh para ahli dari Indonesia seperti Ph. Soebroto, Riboet Darmosoetopo, J. Padmopuspito, dll. Sedangkan penelitian secara geologis juga pernah dilakukan oleh BSKB Borobudur. Wow, wow, jadi semangat kan untuk senantiasa menjaga dan melestarikan warisan nusantara? So, pasti donk!! \^o^/
Candi Sukuh ini dibagi dalam 3 Teras unik, yaitu:

Teras I
Pada teras pertama ini kita akan disambut dengan arsitektur gapura berbentuk trapesium yang memiliki relief berupa seseorang yang sedang dimakan raksasa dan diperkirakan merupakan sengkalan yang berbunyi gapura buta aban wong atau sama dengan tahun 1359 Saka atau 1437 Masehi. Relief lain berbunyi gapura butha anahut buntut atau 1359 Saka atau sama dengan 1437 Masehi. Pada bagian lantai pintu gerbang terdapat relief phallus dan vagina yang dipahatkan secara naturalis. Candi Sukuh ini terkenal dengan kevulgarannya. Mulai dari relief maupun suguhan cerita reliefnya. Nah, terbukti kan dari teras pertama saja, kita sudah disuguhkan dengan relief phallus dan vagina. Nah, kejutan selanjutnya pasti akan kalian temui di teras berikutnya. Tapi, berlatar belakang sejarah dan ceritanya, relief-relief ini jangan hanya dipandang sebagai relief candi yang vulgar ya. Karena, walau bagaimana pun, tetap sarat makna. Kita bisa belajar tentang penciptaan manusia dari candi Sukuh ini. Tentu, dalam versi nenek moyang kita pada zaman prasejarah dulu. Temuan lepas pada halaman I berupa batu berbentuk umpak dan beberapa relief seperti relief empat ekor sapi dan relief seorang penunggang kuda dengan payung besar. Nah, relief empat ekor sapi inilah yang menceritakan bagaimana proses penyempurnaan pembentukan sapi. Tentunya, kalian penasaran kan, bagaimana bentuk awal seekor sapi sebelum menjadi sapi seperti yang kita lihat sekarang ini? Nah, ayo, berkunjung ke candi Sukuh untuk melihat relief sapi yang sesungguhnya versi nenek moyang kita ribuan tahun yang lalu. ^o^
Teras II
Masuk halaman II akan membawa kita ke dunia kerajaan di mana di segala sisi terdapat penjaga yang sangar muka dan penampilannya. Nah, begitu juga di candi Sukuh ini, kita akan disambut oleh dua arca penjaga pintu berwajah mengerikan, selain itu juga terdapat talud yang sekarang sudah tidak utuh lagi dan beberapa relief yang salah satu diantaranya merupakan sengkalan berbunyi gajah wiku anahut buntut atau 1378 Saka atau 1456 Masehi. Pastinya sobat semakin penasaran kan dengan kompleks candi Sukuh yang megah ini. Emm..kalau belum, lihat-lihat aja dulu fotonya, siapa tahu rasa ingin tahu kalian tumbuh dan akhirnya ada ketertarikan untuk berkunjung.
Teras III
Untuk masuk ke halaman III kita juga harus melewati gapura yang kondisinya hanya tersisa sebagian, halaman ini juga memiliki talud dan sebagian besar telah hilang. Sangat disayangkan, ada beberapa benda yang hilang dari kompleks candi Sukuh ini? Kalau dari hari ke hari kondisi kompleks candi Sukuh kita abaikan, tidak diragukan lagi kalau suatu saat kompleks candi ini yang akan hilang। Oleh karena itu, mumpung masih ada waktu, marilah kita senantiasa menjaga dan merawat warisan budaya kita tercinta ini. Halaman III merupakan halaman paling suci karena didalamnya terdapat candi utama. Candi tersebut mengarah ke barat dan berbentuk seperti piramid terpancung, dan di bagian atas bangunan tersebut terdapat altar. Di depan candi utama terdapat tiga arca kura-kura, soubasement yang berisi relief Sudamala dan Garudeya, serta temuan lepas berupa arca dan relief. Cerita Sudamala dan Garudeya dapat diketahui sebagai berikut:
Nama Suddhamala adalah sebutan bagi salah satu tokoh Pandawa yang kelima, yaitu Sahadewa, yang berarti bersih dari dosa, atau juga dapat berarti “pelepasan” atau disebut juga ruwat. Menurut cerita, nama Suddhamala diberikan kepada Sahadewa karena ia telah berhasil membebaskan Dewi Durga dari kutuk Dewa Siwa. Dewi Durga dikutuk menjadi raksasa oleh Dewa Siwa karena ia telah berbuat salah kepada suaminya dan harus turun ke dunia. Ia dapat bebas dari kutukan jika diruwat oleh Sahadewa, anak Kunti. Durga kemudian menemui Kunti agar Sahadewa meruwatnya. Kunti menolak, kemudian Durga menyuruh Kalika untuk merasuk ke jasad Kunti agar Kunti mau menerimanya. Namun, Sahadewa tetap menolak permintaan Durga. Ia kemudian diikat pada sebatang pohon dan ditakut-takuti. Akhirnya Sahadewa berhasil meruwat Durga, sebagai hadiah ia dikawinkan dengan Ni Padapa, anak Pertapa dari Parangalas bernama Tambapetra.
Sedangkan cerita Garudeya bermula dari pertaruhan antara Winata dan Kadru (para istri Ksyapa) tentang warna ekor Kuda Uchchaicrawa yang keluar selama pengadukan lautan susu. Sang Kadru menang taruhan karean ekor Kuda Uchchaicrawa telah diberi bisa oleh para naga (anak-anak Kadru) sehingga berubah warna menjadi hitam. Winata yang kalah bertaruh menjadi budak Kadru, ia dipenjarakan di dunia paling bawah dan dapat terbebas dari perbudakan jika ia menyerahkan air penghidupan (amerta) kepada para naga. Garuda mencoba membebaskan ibunya dari perbudakan. Garuda menuju ke gunung tempat amerta disimpan. Di tempatnya, amera dikelilingi oleh api yang menyala-nyala. Namun, Garuda dengan tubuh keemasannya yang bersinar bagai matahari minum air dari sungai-sungai dan memadamkan apinya. Dewa Indra tahu kemudian mengejarnya. Mereka berkelahi, Indra kalah vajranya terlempar. Garuda melanjutkan perjalanannya hingga mencapai tempat tinggal para naga. Dengan kedatangannya membawa amerta, ibunya dapat dibebaskan dari perbudakan.
Wow, kisah yang sangat inspiratif bukan? Bahwa berbakti dan senantiasa mencintai orang tua, ibu misalnya telah diajarkan sejak zaman prasejarah. Garuda menjadi inspirasi bagi kita semua untuk senantiasa mencintai dan menyayangi ibu. 
Ternyata seru juga kan, belajar kehidupan dari kompleks Candi Cetha yang berumur ribuan tahun lamanya? Kita bangga menjadi bangsa Indonesia, tentu bangga pula dengan segala warisan nusantaranya. Ayo kawan kita bersemangat berkarya dan senantiasa melestarikan peradaban nusantara!! \^o^/

penulis: @anitaLdewi

Candi Cetha Kebanggaan Warisan Nusantara



Rutinitas seringkali membuat seseorang menjadi jenuh dan butuh ekspresi diri untuk menghilangkan penat। Hingar bingar dan kebisingan kota membuat hati dan pikiran semakin dirundung keletihan। Wisata ke daerah yang baru dan asri adalah salah satu pilihan banyak orang untuk melepas penat dan kejenuhan hati, jiwa, dan pikiran। Orang terkadang memilih pergi keluar negeri untuk berlibur, tentunya bagi kalangan atas। Uang bukanlah menjadi suatu masalah bagi mereka, yang terpenting hati puas. Namun, seringkali timbul sisi negatif yaitu tidak dikenalnya wisata nusantara oleh mereka yang memandang bepergian keluar negeri dapat meningkatkan prestige. Padahal, kecintaan terhadap negeri sendiri juga perlu dijaga. Jangan sampai justru orang asaing yang nantinya akan mengenal kebudayaan, peninggalan sejarah, dan semua tentang nusantara dibandingkan orang negeri sendiri. Hal ini telah saya alami ketika berkunjung di Candi Cetha, salah satu candi di Gunung Lawu yang pengunjungnya justru ramai dari turis Jepang, bule, dan turis asing lainnya. Padahal, Candi Cetha ini memiliki suasana yang sangat asri dan pas untuk mendapatkan udara segar serta melepas penat dan kejenuhan dari rutinitas. Kunjugan ke kompleks Candi Cetha ini akan memberikan informasi yang bagus untuk para pengunjungnya.


Kompleks candi Cetha terletak di lereng barat Gunung Lawu berada pada ketinggian ± 1.400 meter dari permukaan laut. Hawa sejuk pegunungan inilah yang membuat pikiran menjadi tenang dan nyaman. Asupan oksigen yang selama ini “mahal” di daerah perkotaan dapat dibeli dengan “murah” di area ini. Berikut dengan pemandangan yang menakjubkan dari nenek moyang kita sebagai warisan bersama yang patut dilestarikan. Bila dilihat dari garis astronomis, kompleks candi Cetha terletak pada 111o 09` 14” BT dan 07o 35’ 48” LS. Sedangkan secara administratif, berada di Dukuh Cetha, Desa Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Sebagian besar penduduk di daerah ini adalah sebagai petani, terutama petani sayuran. Serta sebagian wanitanya juga bekerja sebagai pemetik teh. Pemandangan alam yang indah selama perjalanan menuju kompleks Candi Cetha. Kita disuguhkan dengan kebun teh yang terhampar luas dan tidak kalah cantiknya dengan kebun teh di Puncak, Bogor, Jawa Barat. Ingin rasanya kembali ke sana. Sudah dua kali saya berkunjung ke daerah ini, setiap kali melihat dokumentasi yang saya abadikan, saya semakin rindu akan ketenangan tempat yang disuguhkan. Sungguh, ketenangan yang belum bisa saya dapatkan di daerah lain. Hal inilah yang membawa kerinduan yang nyata untuk kembali ke sini.

Keberadaan kompleks candi Cetha pertama kali dilaporkan oleh Van der Vlis pada tahun 1842. Selanjutnya, kekunoannya banyak mendapat perhatian dari para ahli purbakala seperti W.F. Stutterheim, K.C. Crucq, N.J. Krom, A.J. Bernet Kempers, Riboet Darmosoetopo dkk. Pada tahun 1928 Dinas Purbakala telah mengadakan penelitian melalui ekskavasi untuk mencari bahan-bahan rekonstruksi yang lebih lengkap. Kesadaran bahwa warisan nusantara tidak boleh dibiarkan begitu saja, telah mendorong orang-orang untuk mulai meneliti dan melestarikan candi Cetha. Sungguh, suatu usaha yang nyata dari para pendahulu kita untuk terus memelihara harta warisan nenek moyang tidak boleh kita hentikan. Tidak boleh berhenti pada generasi kita, apalagi generasi handal seperti sobat, kita haruslah selalu senantiasa menjaga, merawat, mencintai, dan melestarikan. Sesuatu yang baru akan datang karena ketertarikan dan keingintahuan kita akan sesuatu yang baru. Namun, seorang yang bijak akan selalu senantiasa menjaga dan mempertahankan pula sesuatu yang sudah lama ada. Mari kita mulai menumbuhkan rasa cinta kita terhadap kekayaan budaya dan peninggalan sejarah yang telah diwariskan ke kita. Tak kenal maka tak sayang. Oleh karena itu, marilah kita mulai untuk mengenal candi Cetha terlebih dahulu dari cerita sejarahnya. Lantas, lanjutkan dengan tapak tilas ke kompleks Candi Cetha. Alangkah indahnya salah satu surga dunia yang Tuhan persembahkan ke kita. Marilah kita sebagai generasi penerus bangsa melestarikan warisan budaya nusantara, salah satunya mencintai peninggalan sejarah nusantara.
Berdasarkan penelitian Van der Vlis maupun A.J. Bernet Kempers komplek candi Cetha terdiri dari empat belas teras. Namun kenyataan yang ada pada saat ini kompleks candi Cetha terdiri dari tiga belas teras berundak yang tersusun dari barat ke timur, makin ke belakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing halaman teras dihunbungkan oleh sebuah pintu dan jalan setapak yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua. Bentuk seni bangunan candi Cetha mempunyai kesamaan dengan candi Sukuh yaitu dibangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa Prasejarah. Bentuk susunan bangunan semacam ini sangatlah spesifik dan tidak ditemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah kecuali candi Sukuh. Keunikan inilah yang menjadi salah satu daya tarik para wisatawan untuk mengunjungi candi Cetha. Tentu, selain untuk menikmati hamparan kebun teh yang luas. Selain, itu kunjungan ke kompleks candi Cetha juga dilatarbelakangi oleh keinginan untuk beribadah bagi umat Hindu. Tidak ada salahnya kan, menikmati indahnya bangunan bersejarah yang terdapat di lereng gunung Lawu. Hal ini, dapat membuat kita semakin bersemangat untuk bekerja keras. Bagaimana tidak, para nenek moyang kita di zaman Prasejarah saja bisa berkarya dengan sangat indahnya membangun kompleks candi Cetha di ketinggian 1.400 meter dari permukaan laut. Apalgi, karya mereka mampu bertahan selama ratusan bahkan hampir ribuan tahun lamanya, dan bermanfaat bagi kita semua. Lantas, apa sulitnya untuk kita dalam berkarya di tengah tekhnologi yang semakin canggih, sarana dan prasarana yang semakin lengkap, asupan makanan yang cukup, beragam, dan bergizi. Pastilah kita harus mampu untuk berkarya.
Pada kompleks candi Cetha banyak dijumpai arca-arca yang mempunyai ciri-ciri masa Prasejarah misalnya arca digambarkan dalam bentuk sederhana, kedua tangan diletakkan di depan perut atau dada. Sikap arca semacam ini menurut para ahli mengingatkan pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. selain itu, juga terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan cerita Cuddhamala seperti candi Sukuh dan relief-relief binatang seperti kadal, gajah, kura-kura, belut, dan ketam.

Mengenai masa pendirian candi Cetha, dapat dihubungkan dengan keberadaan prasasti yang berangka 1373 Saka atau sama dengan 1451 Masehi. Berdasarkan prasasti tersebut serta penggambaran figur binatang maupun relief dan arca-arca yang ada, kompleks candi Cetha diperkirakan berasal dari sekitar abad 15 Masehi dari masa Majapahit akhir. Bangunan utama pada kompleks candi Cetha terletak pada halaman paling atas atau belakang. Bentuk bangunan dibuat seperti candi Sukuh dan ini merupakan hasil “pemugaran” pada akhir 1970-an bersama-sama dengan bangunan-bangunan pendapa dari kayu. Di bagian paling atas kompleks candi Cetha, terdapat patung Dewi Saraswati yang sangat tinggi sedang berdiri di atas bunga teratai ditemani oleh dua angsa putihnya. Sungguh, bangunan tambahan yang sangat cantik. Pembangunan Puri Taman Saraswati ini disahkan pada tahun 2005 oleh Bupati Karanganyar.
Nah, bagaimana, apakah kalian tertarik untuk berkunjung ke candi Cetha? Semoga saja iya. Karena kalau bukan kita yang melestarikan warisan nusantara, siapa lagi. Jangan sampai kita tidak mengenal warisan budaya sendiri dan orang asing justru lebih menguasainya. Let`s do our best!! \^0^/


Penulis: @anitaLdewi

Candi Gedong Songo Permata Hati di Lereng Gunung Ungaran


Travelling menjadi salah satu pilihan bagi masyarakat untuk melepas segala kejenuhan dan kepenatan rutinitas sehari-hari. Salah satu tujuan wisata masyarakat adalah puncak. Selain udaranya yang sejuk dan bagus untuk pernafasan, puncak dipilih karena menjanjikan suasana damai yang jauh dari hingar bingar. Terutama bagi masyarakat yang tinggal di perkotaan. Untuk wilayah Kabupaten Semarang, Candi Gedong Songo di Lereng Gunung Ungaran bisa menjadi salah satu pilihan. Anda, juga bisa mempelajari betapa hebatnya nenek moyang kita yang dapat membangun situs bersejarah. Semangatnya bisa kita jadikan motivasi kita untuk menjadi lebih baik selepas travelling. Jadi, sekali dayung dua tiga pulau terlampaui kan sobat. Pikiran menjadi jernih, tubuh sehat, pun semangat kembali menggelora.

Candi Gedong Songo merupakan candi yang sangat unik. Bagaimana tidak, candi ini tesebar di lereng Gunung Ungaran. Area yang ditempuh untuk menuju kompleks pariwisata ini, akan membakar sedikit kalori lebih banyak. Ya, hitung-hitung sembari berolahraga ya, Sobat.
Candi Gedong Songo merupakan candi peninggalan Wangsa Syailendra abad ke-9 (tahun 927 Masehi). Wuah, sudah berumur berapa tahun ya? Entahlah, pastinya ribuan tahun yang lalu. Tapi, masih berdiri kokoh lho, hebat kan? Tak kenal maka kenalan, nama candi ini adalah Candi Gedong Songo. Songo artinya sembilan. Dinamai demikian karena memang ada sembilan candi dengan kompleks yang berbeda-beda. Seperti yang telah aku bilang tadi, kalori yang terbuang dari perjalanan mengitari kompleks candi Gedong Songo ini akan lebih banyak dibandingkan yang lain. Bagi sobat yang memang sedang menjalankan program diet menurunkan berat badan, cocok sekali jika latihan fisik di kompleks ini। Hehehe....

Kompleks Candi Gedong Songo ini dipisahkan oleh jarak yang tidak terlalu dekat, dan yang paling membakar kalori adalah jalannya yang menanjak layaknya jalan pegunungan. Ya, bagi yang cinta dengan hiking, pastilah tidak kaget dengan area pegunungan ini. Tapi, ya, bagi para pengunjung yang tidak ingin kehilangan banyak kalori dapat menikmati seluruh kompleks Candi Gedong Songo dengan menunggangi kuda yang dapat disewa dengan fee berkisar antara Rp 30.000,00 sampai Rp 70.000,00. Tidak perlu khawatir kemahalan, karena semuanya sudah distandarkan oleh Dinas Pariwisata. Oya, bagi turis mancanegara, pastinya berbeda ya. Namun, bagi kalian yang ingin menikmati sensasi capeknya mengitari kompleks candi Gedong Songo dengan jalan kaki, akan sangat menyenangkan sekali. Setidaknya untuk latihan fisik dan olahraga. Kita juga akan dimanjakan dengan banyak permainan seperti flying fox dan wall climbing. Tentunya, sesi foto-foto tidak boleh dilewatkan. Pastikan, baterai kamera kalian dalam keadaan full saat memasuki area ini, karena foto-foto merupakan hal wajib untuk mengabadikan perjalanan kita. narsis tetap jalan ya... hehehe... oya, untuk ongkos masuk bagi turis lokal cukup Rp 6.000,00. Murah kan??
Candi Gedong Songo merupakan candi peninggalan budaya Hindu yang terletak di Desa Candi, Kecamatan Ambarawa, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, Indonesia tepatnya di Lereng Gunung Ungaran. Candi ini konon katanya ditemukan oleh Raffles pada tahun 1804. Candi ini terletak di ketinggian sekitar 1.200 meter di atas permukaan laut. Wuah, sudah bisa membayangkan bagaimana udaranya kan? Pasti sejuk, apalagi didukung dengan hutan pinusnya yang asri dan menjulang tinggi. Wuah, suasana yang sangat sensasional bagi mereka yang merasakan betapa mahalnya udara segar di perkotaan. Emm,,, bisa jadi obat awet muda bagi kulit yang stress dengan udara perkotaan yang penuh polusi. Suhunya, berkisar antara 19-27oC. Wow,, amazing kan? ^o^
Bagi yang bermasalah dengan kulit, terutama jerawat, panu, kadas, kurap, dan lain sebagainya। Tidak perlu khawatir. Salah satu keuntungan berkunjung ke kompleks candi Gedong Songo yaitu kalian dapat menghilangkan gatal-gatal disebabkan panuan, kadas, kurap, jerawat, dll secara gratis. Free tanpa bayar. Basuh saja dengan air belerang yang terdapat di salah satu mata air di kompleks candi Gedong Songo. Cukup dengan Rp 3.500,00 jika ingin berendam di kolam renang air belerang. Tidak mahal bukan? Air belerang di sini terkenal ampuh lho... mau coba? Makanya, ayo berkunjung ke salah satu pariwisata kebanggaan Indonesia ini. Sudah berkali-kali aku berkunjung ke sana. Dan tidak ada rasa bosan ^o^.
Nah, sobat pecinta hiking dan pecinta warisan budaya nusantara, tidak salahnya melakukan perjalanan ke kompleks Candi Gedong Songo. Kalau weekend, kalian juga akan menemukan sejumlah kelompok yang sedang camping. Kompleks Candi Gedong Songo ini merupakan salah satu tempat favorit untuk camping lho... hohoho....


Penulis: @anitaLdewi